VS
Sebagin besar orang yang berkecimpung di bidang geologi menyukai travelling atau bepergian ke
tempat-tempat menarik (sebagian lagi tidak). Kebiasaan bekerja di lapangan dan
menjelajah daerah-daerah pelosok membuat jiwa petualang para penggelut geologi
muncul dengan sendirinya. Sebenarnya akan lebih tepat disebut, seorang geologist
secara alami akan tumbuh menjadi orang yang “tidak bisa diam”.
Pasca pulang dari Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi, saya disambut
dengan setumpuk hari-hari “menganggur” tanpa kegiatan yang biasanya menyibukkan
saya. Tidak ada UAS, tidak ada Pemetaan Geologi seperti kawan-kawan seangkatan
saya, dan tidak ada pembuatan tugas untuk memperbaiki nilai UAS yang
memprihatinkan. Menjadi pengangguran selama hampir 2 bulan membuat kaki saya
gatal ingin berjalan bertualang ke suatu tempat yang jauh.
Secerca harapan untuk mengusir hari-hari menganggur dan memenuhi hasrat
tidak-bisa-diam akhirnya datang. Tidak tanggung-tanggung, Gunung Semeru jadi
destinasi utamanya. Salah satu keinginan
yang saya damba-dambakan dari dulu. Namun tiba-tiba kebiasaan buruk (yang dalam
hal ini jadi sebuah kebaikan) saya muncul, memikirkan sesuatu terlalu
berlebihan. Bola keputusan anggaran pengeluaran sedang berada di garis batas
antara keinginan mendaki Gunung
Semeru dan keperluan membeli sepatu
lapangan & harddisk eksternal.
Dengan berat hati pilihan akhirnya jatuh di sepatu lapangan dan harddisk eksternal karena saya memerlukannya. Selain itu saya pikir,
manfaat yang akan saya peroleh akan lebih banyak ketimbang mendaki G. Semeru. Seandainya
mereka sepatu dan harddisk hidup,
mereka pasti tertawa lebar dan mengolok-olok G. Semeru karena tidak saya pilih.
Pilihan ini tidak saya buat dengan melempar koin atau menghitung kancing
di kemeja hitam kesayangan saya, atau bahkan menghitung nomor polisi kendaraan
dengan berbagai rumus seperti halnya para praktisi di bidang “kaya mendadak”.
Ini – semoga saya benar – adalah masalah keinginan dan keperluan. “Saya
menginginkannya,” atau “Saya memerlukannya”. Pernyataan mana yang akan anda
buat jika dihadapkan pada pilihan seperti yang saya alami di atas??
perlu atau ingin? sebenarnya relatif. pandai-pandai saja dalam menyusun prioritas. dan yang pasti harus realistis :D
BalasHapus